logo megas-online.com

KEDAI MAKANAN TERPUKUL PSBB, OSHILOVA SUKSES GARAP LADANG BISNIS BARU

  • Wartawan: Ken Ayu | Editor: Luddy Eko

  • Sunday, 31 May 2020

Ubaidillah Hasan di depan gerai frozen food miliknya di kawasan desa Jati Sidoarjo

Sidoarjo, Megas-online.com: Terus menurunnya omzet penjualan akibat pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) memaksa Ubaidillah Hasan harus membuat keputusan tegas dengan menutup tiga gerai kedai makanannya di Bali dan satu di Sidoarjo sekaligus.

“Daripada makin berdarah-darah, lebih baik ditutup. Soalnya rata-rata pendapatan per harinya tidak lebih dari 30% jika dibanding sebelum adanya PSBB,” ujar pemilik kedai makanan Oshilova itu kala ditemui di rumahnya, Minggu (31/05/2020).

Sebenarnya, masih ada satu lagi gerainya di Bali yang kondisinya sudah memburuk. Namun dengan pertimbangan demi menjaga brand image perusahaannya, pria asal Wonoayu Sidoarjo itu memilih tetap mempertahankannya meski harus merugi.

Namun masalahnya tidak berhenti sampai disitu. Ia harus memikirkan nasib anak buahnya agar jangan sampai menganggur dan kehilangan pendapatan. Setelah dipertimbangkan dengan matang, akhirnya iapun merelokasi karyawannya ke gerai-gerai lain miliknya yang masih buka.

Ubay, begitu ia biasa disapa, memiliki 11 gerai kedai penyedia makanan berbahan dasar daging ayam itu. Delapan diantaranya berdiri di Bali, tempat dimana ia mengawali langkahnya sebagai entrepeneurship di bidang kuliner. Sedangkan tiga gerai lainnya ia bangun di kota kelahirannya, Sidoarjo. 

“Yang kami tutup ada di Jalan Raya Lingkar Barat, dekat monumen Ponti. Sedangkan dua lainnya ada di Sidokare dan Graha Kota,” ujar pria yang awalnya bekerja sebagai karyawan di sebuah bank plat merah itu. 

Dalam kondisi perdagangan yang makin memburuk itu, Ubay mencoba untuk mencoba mengolah ladang bisnis baru yang sebenarnya tak terlalu asing baginya, makanan. “Saya coba jualan frozen food. Apalagi kami juga sudah punya cukup banyak freezer yang bisa kami manfaatkan,” imbuh bapak dari lima orang anak itu.

Bahan makanan siap olah itu ia jual dengan sistem online dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi terkini. Sedangkan untuk urusan delivery-nya ditangani oleh karyawannya sendiri sehingga bisa menekan harga demi mendongkrak daya saing komoditas dagangannya.

Bukan cuma itu, agar cash flow-nya berjalan lancar Ubaypun tak segan-segan memangkas margin keuntungannya. “Biar untung sedikit asalkan lancar. Anggap saja shodaqoh keuntungan,” senyum pengusaha muda itu terkembang.

Pemanfaatan potensi di ceruk bisnis ini terbukti mampu menolong perputaran uang usahanya meski terbilang baru digarap tak lebih dari sebulan ini. “Lumayan lah. Kira-kira hasilnya sama dengan satu gerai kedai makanan,” ucap Ubay sambil tersenyum kala ditanya bilangan rupiah yang bisa ditangguknya dari bisnis barunya itu.

Ia berencana tetap mempertahankan bisnis barunya tadi meski nantinya gerai-gerai makanan yang ditutup itu telah berhasil dipulihkan setelah pemerintah menghapus status PSBB yang diberlakukan sejak tiga bulan yang lalu itu.

“Karena bagaimanapun masih banyak pengusaha-pengusaha kecil terutama para PKL yang sangat terpukul kebijakan ini. Kalau kebijakan ini tak segera diubah, maka PSBB saya sebut telah sukses membunuh bisnis masyarakat,” keluhnya.*

Pengunjung : 62

Berita Utama Lainnya

MENDIKBUD PASTIKAN AN DIUNDUR SAMPAI SEPTEMBER

Nasional

  • Wednesday, 20 January 2021